Dalam Bahasa Indonesia, kata Passion bisa dialih bahasakan dengan banyak arti dan tergantung konteks. Mengutip dari blog paramitamohamad.com

Catatan singkat tentang penerjemahan “passion” menjadi renjana:
Seringkali dalam konteks ini “passion” diterjemahkan menjadi “semangat”, dan ini terlalu longgar. Kadangkala “passion” dialihbahasakan menjadi “hasrat”. “Hasrat” adalah sinonim dari keinginan, sehingga lebih cocok untuk menerjemahkan “desire“.

Follow your passion sendiri muncul setelah beredarnya video viral pidato Steve Jobs di depan para wisudawan Universitas Stanford amerika, pada musim panas 2005.

Dalam pidato tersebut, Steve jobs mengatakan “The only way to do great work is to love what you do. If you haven’t found it yet, keep looking”.

Ide besarnya sendiri:

  1. Setiap orang memiliki passion yang telah ada didalam diri mereka masing yang siap untuk ditemukan.
  2. Jika kita memiliki tersebut, kita harus mengikutinya dalam berkarya ataupun di karir.

Intinya, jika ini bahagia dalam bekerja,temukan passion dulu dan bekerja mengikuti passion tersebut. Dan kesuksesan atau uang akan datang dengan sendirinya.

Terdorong akan rasa penasaran akan ide dasar tersebut, Carl Newport, seorang profesor ilmu komputer di Universitas Georgetown melakukan riset tentang ide dasar tersebut. Ia mewawancarai berbagai macam figure yang sukses diberbagai bidang.

Newport membuktikan bahwa passion adalah sebuah efek atau konsekuensi dan bukan hadir sebelum orang menemukan passion tersebut.

Jadi selama ini orang yang bahagia dalam bekerja bukan karena mereka menginginkan atau antusias akan pekerjaan mereka, akan tetap akibat dari seberapa lamanya mereka menekuni bidang tersebut.

Newport juga menemukan bahwa Steve Jobs mendirikan Apple pada awalnya hanya demi mencari uang semata. Hasil uang tersebut digunakan untuk membiayai kursus mistisisme timur di Los Altos Zen Center, yang membuatnya beralih menjadi pemeluk agama Budha.

Newport menjelaskan bahwa Steve Jobs yang bekerja keras di industri komputer rakitan menemukan value ketika ia memikirkan visinya akan dapat memberi kontribusi pada dunia. Hal ini muncul karena Steve Job membangun keterampilan yang langka dan berharga di bidang yang ia geluti. Steve sendiri terkenal sebagai orang yang menuntut kesempurnaan ketika menciptakan produk untuk Apple. Hal ini bisa dirasakan oleh para penggemar produk iphone yang mengatakan bahwa produk terakhir Iphone 4s adalah Iphone terbaik karena kesempurnaan produk tersebut.

Newport menamai bawaan sikap dan mental mencapai kesempurnaan dengan craftsman mindset atau mental pengrajin. Ketika kita melihat para pengrajin, kita bisa melihat semangka mereka mencurahkan kemampuan terbaiknya demi menghasilkan karya terbaik. Ketika sudah mendapatkan karya terbaik nan langka tersebut akan memberikan nilai lebih dibidang yang mereka geluti.

Untuk mendapatkan kemampuan terbaik tersebut, kita harus bekerja keras dan ketekunan yang besar. Kita juga harus jujur akan kemampuan kita sendiri dengan meminta umpan balik dari orang-orang yang ahli dibidang yang kita geluti.

Buku So Good They Can’t Ignore You, menjelaskan proses tersebut dengan Istilah umumnya “deliberate practice”, yakni latihan dengan menu khusus supaya skill meningkat. Pada saat latihan mungkin menderita dan tidak menyenangkan sama sekali, tapi hasil akhirnya akan memberi optimal.

Konsep deliberate practice tidak tidak berbicara tentang apa pekerjaannya. Tapi bagaimana mengerjakannya.

Cal Newport menjelaskan bahwa ketika kita berpikir bahwa kita memiliki passion dan ada pekerjaan yang sesuai dengan passion tersebut justru berbahaya. Orang-orang yang percaya pada passion, banyak mempertanyakan bahwa dunia harus menyediakan pekerjaan yang sesuai dengan passion mereka.

Mereka berpikir jika tidak ada pekerjaan yang mengakomodir passion menuding bahwa dunia tidak adil kepada diri mereka.

Itu sebabnya banyak orang yang mulai kehilangan semangat hidup, banyak yang merasa passion mereka tidak membawa kebahagian atau kesuksesan.

Banyak para penggemar fotografi yang awalnya menggebu-gebu dalam hobinya berakhir dengan mengenaskan. Mereka seolah-olah kehilangan semangat yang dulunya berapi-api.

Dalam buku So Good They Can’t Ignore You, Cal Newport menjelaskan formula sederhana bagaimana mencapai kebahagian dan kesuksesan dalam bekerja:

  1. Jalani pekerjaan yang ada di depan mata, berusaha sebaik mungkin meningkatkan kompetensi.
  2. Dengan meningkatkan kompetensi, nilai kita bertambah.
  3. Jika sudah bertambah, perlahan kita bisa bergeser dan mencari titik-titik transisi untuk menuju pekerjaan yang kita inginkan (yang kita anggap sesuai dengan passion sejati kita)

Contoh pekerjaan Anda seorang fotografer dan menjalani fotografi sebagai hobi atau profesi. Tentu Anda ingin menambah skill memotret dengan cara berlatih terus dan mencari mentor yang mumpuni sebagai bahan umpan balik atas karya anda. Mungkin bagi sebagian orang bahwa kritikan dari hasil kerja selalu selalu menjengkelkan walaupun kritik tersebut datang dari orang yang mumpuni sekalipun. Akan tetapi itulah yang harus dilewati.

Dengan bertambahnya skill tersebut akan meningkatkan value kita sendiri. Alhasil orang akan mulai menaruh kepercayaan atau otonomi kepada kita. Tentu saja kepercayaan itu sendiri lahir dari kemampuan kita dalam menjaga produktivitas dan pengikatan kompetensi.

Kemampuan tersebut juga memberi value kepada dunia. Contoh Apple di tangan Steve Jobs mengubah dari paradigma bahwa hanyalah sebagai mesin belaka menjadi benda pemberi nilai estetik dan pengalaman yang lebih bagi para pengguna komputer.

Dari otonomi tersebutlah, kita memiliki posisi tawar yang lebih dalam pekerjaan baik dalam gaya dan cara bekerja. Atau ketika memilih proyek apa saja yang kita suka. Contoh lain adalah Bob Sadino, bagaimana almarhum dengan santainya bekerja dengan celana pendek.

Cal Newport berpesan dalam seminar The 99U “Jangan hiraukan apa yang dikatakan Steve Jobs, lakukan apa dia kerjakan”.