Bias menyukai (Liking bias) adalah salah satu kesalahan nalar yang paling gampang untuk dideteksi namun sulit untuk menghindarinya.

Ketika kita menyukai seseorang, ada kecenderungan untuk membeli atau menolong orang tersebut. Hal ini tentu menimbulkan rasa senang.

Mungkin ini juga sebabnya kenapa Licker Ass (para penjilat) selalu berhasil mendapatkan posisi di kantor. Anda tentu pernah melihat menyaksikan ada orang yang tidak bisa apa-apa tapi sering memegang peranan penting di lingkungan (kantor atau tempat tinggal) Anda bukan?

Berdasarkan penelitian, ada tiga faktor penyebab rasa senang tersebut;

1.Penampilan luar yang menarik.

Rasanya terlalu munafik apabila ada orang yang tidak suka dengan pria/wanita menarik secara fisik.

Itu sebabnya industri periklanan selalu mempekerjakan talent yang memiliki fisik menarik dalam iklan mereka.

Hal unik ini juga bisa dirasakan pada saat pemilu presiden tahun 2014 (2019) yang lalu. Salah satu bakal calon presiden, Prabowo Subianto.

Beliau pada masa kampanye sering menggunakan pakaian seperti para tokoh politik era proklamasi kemerdekan.

Ditambah lagi ketika berkampanye, beliau sering menggunakan kuda seperti pangeran Diponegoro. Layaknya seperti atraksi seorang jendral yang memimpin pasukan dengan gagah berani. Jujur kharisma beliau begitu meningkat daya tarik berkali-kali lipat dikalangan masyarakat.

Kharisma salah satu mantan jendral terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Terlebih lagi latar belakang sebagai seorang mantan pasukan khusus kopassus menjadi nilai jual tinggi beliau.

Saking mempesonanya Beliau, para pengikutnya rela melakukan berbagai cara agar beliau menjadi RI 1 (Presiden). Mulai dari melakukan kampanye hitam ke kubu lawan, sampai rela untuk kehilangan hidup mereka sendiri hanya untuk mempertahankan hal yang sebenarnya tidak penting.

2. Faktor kesamaan

Singkat kata, ketika orang yang memiliki persamaan penampilan , logat bahasa atau latar belakang, semakin baik pula penerimaan orang terhadap kita sendiri.

Mengambil contoh kondisi yang sama pada pemilu 2014, penantang serius sang jendral berkuda adalah Joko Widodo.

Dalam berkampanye Jokowi melakukan hal yang sebaliknya, beliau menempatkan diri sebagai orang dari kalangan biasa.

Ketika lawan bakal capres Prabowo Subianto menempatkan dirinya sebagai seorang yang berkedudukan tinggi dibandingkan para pengikutnya. Jokowi merasa bahwa ia adalah bagian dari rakyat yang akan dia pimpinan.

Beliau memberikan gambaran bahwa pemimpin yang berasal dari rakyat yang tidak memiliki hirarki. Hal ini menimbulkan empati bagi pagi para pengikutnya yang merasakan sang calon presiden ini mengerti permasalahan rakyat di akar rumpun.

Faktor kedekatan (emosi) citra inilah yang menyebabkan masyarakat yang belum mengenalnya menjadi jatuh hati dan menjadi kunci kemenangan beliau.

Jika dihubungan dengan dunia penjualan, teknik ini sering disebut teknik bercermin. Si penjual berusahaa membuat sang calon pembeli merasakan perasaan yang sama dalam berinteraksi.

Sang penjual perusahaan meniru bahasa, ekspresi wajah atau gesture calon pembeli. Ketika sang pembeli berbicara logat batak, biasanya si penjual berusaha mengikuti logat si pembeli tersebut walaupun dia tidak berasal dari suku yang sama.

3. Kita tertarik pada orang yang menyukai kita juga

Contoh, para penjilat entah dimanapun lingkungan mereka berada, selalu survive. Mereka bisa mengambil hati bos Anda atau teman Anda dengan cara melontarkan pujian yang menyiratkan rasa suka walaupun sering tidak tulus dari dalam hati.

Dalam buku Budiman Hakim berjudul “saya ingin jago presentasi”. Ketika sales promotion berhadapan dengan calon pembeli, mereka tidak langsung membombardir sang calon pembeli dengan promosi mereka.

Mereka biasanya berusaha mengenal sang calon pembeli terlebih dahulu. Lalu setelah mendapatkan clue siapa sang calon pembeli, mereka melemparkan pujian agar si calon pembeli ini merasa senang.

Salesman ini tahu setelah mereka merasa senang, segala informasi yang mereka berikan akan sulit ditolak oleh sang calon pembeli.

“kita jarang menemukan seseorang yang memiliki pemahaman yang baik kecuali mereka setuju dengan kita” (La Rochefoucauld)

Organisasi pencinta alam seperti World Wild Fund tahu benar dalam memanfaatkan bias ini. Mereka selalu menggunakan key-visual seperti panda atau koala sebagai pusat perhatian branding mereka.

Alasan menggunakan binatang-binatang tersebut dikarenakan pola tingkah laku mereka seperti manusiawi dimata kita. Mereka bertingkah seolah-olah mereka mirip bayi manusia. Singkatnya kita menyukai mereka mereka karena ada kemiripan tersebut.

Itu sebabnya kita jarang menemukan brosur WWF ada gambar cacing, laba-laba atau bakteri walaupun mereka jauh lebih penting bagi ekosistem lingkungan.

Reference:

Joe Girard, How to Sell Anything to Anybody (New York: Simon & Schuster, 1977)

Robert B. Cialdini, Influence: The Psychology of Persuasion (New York: Harper Collins, 1993)